Articles on Enrico

Articles Concerning Enrico Soekarno

Bermula Dari Buku Van Gogh

Mendiang Van Gogh, bukan saja melegenda berkat karya lukisnya. Sosok perupa yang karya-karyanya mendunia, justru setelah ia tiada itu, juga mengubah pandangan hidup banyak manusia. Satu diantaranya adalah perupa Enrico Soekarno. "Setelah saya membaca buku Van Gogh, seketika itu pandangan saya berubah," ujar perupa Enrico Soekarno.

Lelaki yang semasa kecilnya gemar cerita-cerita heroik yang revolusioner itu, bahkan akhirnya mengidolakan Van Gogh. Melalui penulusuran jejak Van Gogh, pengamatan terhadap karya-karya besar Van Gogh serta pengamatan terhadap alam, mencetak seorang Enrico sebagai pelukis yang tegas dengan sikap pilihannya. Ia tak terpengaruh ragam aliran seni rupa modern. Berikut bincang-bincang Tokoh dengan perupa Enrico Soekarno.

Kapan Anda mulai sadar bahwa melukis adalah sebuah pilihan hidup?

Mungkin saat SMA, di Sydney, Australia. Suatu ketika, guru kesenian saya memberi buku pelukis Van Gogh. Saya membaca dan terkesima. Sejak itu saya punya keinginan luar biasa untuk mendalami sosok Van Gogh. Maka setamat sekolah, saya ke Eropa. Saya telusuri dan pelajari jejak Van Gogh, baik sebagai perupa maupun sebagai Manusia.

Ihwal guru yang memberi buku saya, juga ada cerita menarik. Guru itu terus terang saya pacarin... Di Australia, itu biasa saja. Kalau disini, wah... heboh... Terus terang, saat remaja, saya ini bandel, sampai akhirnya 'dibuang' (disekolahkan-red) ke Australia. Saya diasramakan di sana, sementara orang-tua tetap di sini.

Kembali ke soal pengenalan seni lukis. Meski kisah di atas saya jadikan titik pijak karier kepelukisan saya, tapi saya tidak bisa melupakan cerita semasa anak-anak di kebayoran, saat saya belajar melukis krayon pada seorang guru bernama Pak Ooq.

Obsesi apa yang membawa Anda ke eropa?

Obsesi Van Gogh. Yang jelas, saat SMA di Australia, saya mengumpulkan uang. Setelah lulus, saya cabut ke Eropa. Dua tahun saya jadi gembel di sana. Begitu dominannya figur Van Gogh pada diri saya, sampai-sampai awal saya memulai karier kepelukisan saya pun, saya terus terang meng-copy Van Gogh.

Jadi jangan tanya soal aliran. Saya benar-benar mengakui senioritas perupa. Khusus saya, ya Van Gogh itulah warna saya pada waktu itu. Tapi kalau ditanya apa aliran saya sekarang, saya ini Soekarnois... ha... ha... ha...

Sudahlah. Bagi saya, Van Gogh adalah sosok luar biasa. Mulanya saya lihat di buku dan langsung tertarik. Nah, ketika saya melihat langsung, saya lebih takjub lagi. Ia seorang genius. Melukis tanpa pakem. Setiap orang akan menangkap kesan tersendiri terhadap lukisan van Gogh, dan masing-masing orang akan berbeda kesannya--dia mendempetkan dua warna dan membiarkan mata yang melihat mencampurnya--meski menikmati objek lukisan yang sama.

Bagi saya, itu luar biasa. Tentu saja saya ingin mencapai ke tingkat itu, dengan style dan gaya saya. Van Gogh sendiri berproses. Ia sempat pergi ke Paris dan melukis berbagai lukisan jenis impresionis yang trend ketika itu. Tapi akhirnya ia sadar dan kembali ke jati dirinya sendiri. Lantas sejarah mencatat sebagai post impressionist.

Saya pribadi memang tidak mau dikotakkan ke aliran tertentu. Anda lihat saja lukisan saya. Mungkin menangkap kesan realis, tapi disana juga ada unsur ekspresionis. Saya pun banyak menggunakan warna hitam-putih. Ada semacam keinginan untuk menyatukan dua hal yang berbeda, seperti Barat dan Timur. Atau mungkin juga pengaruh karena saya keturunan Jawa dan Latvia.

Berhasilkah?

Ada juga yang mengatakan lukisan saya terlalu berwarna Eropa, padahal enggak juga... Ya itulah saya, ingin menggabung beragam aliran yang saya tahu, semoga berhasil. Kelihatannya sih... cukup berhasil.

Tampaknya banyak lukisan Anda yang hitam-putih?

Ya, sepertinya itulah ciri khas saya.

Ada kendala terhadap dan sikap yang Anda ambil?

Oh ya... banyak yang mengatakan lukisan saya tak lebih dari sebuah 'gambar'. Orang galeri pun meragukan lukisan saya akan laku. Tapi... saya buktikan, dan berhasil. Artinya, gambar sebagai finished product.

Apakah tingkatan yang Anda capai saat ini juga merupakan akhir dari petualangan karier kepelukisan Anda?

Saya kira berproses. Dulu, saya pun seperti Van Gogh, di mana saya melukis alam ya langsung on the spot. Di gunung, pergi ke Flores, ya saat itu dan di tempat itulah saya melukis. Nah, akhir-akhir ini, saya sudah mulai ke tahap pengendapan atau penjiwaan dan penghayatan. Beberapa karya saya terakhir, lahir di dalam studio, hasil olah karsa dan rasa.

Seorang perupa yang sudah sampai tahap olah batin, bukankah itu merupakan puncak karier?

Entahlah. Idealisme saya adalah kejujuran. Dan lukisan-lukisan saya terakhir memang benar-benar personal, internal. Semua buku yang pernah saya baca, pengalaman dan pengetahuan hidup, tertuang dalam karya-karya saya terbaru. Di sana tertuang soal hati, kejujuran emosi, teknik, dan permainan intelektual. Itu semua saya coba gabungkan, sehingga lukisan saya memancarkan dimensi lain.

Objek sosial kemasyarakatan juga menarik minat Anda?

Oh ya... saya melukis Aceh, Timor Timur. Jadi, saya pun menggabungkan antara aliran seni murni dan idealisme politik. Tapi harus diingat, bahwa seni itu eternal, tidak dibatasi oleh waktu. Jadi kalau saya menggambar pembantaian manusia, tidak langsung berasosiasi dengan kejadian tertentu. Makanya saya visualisasikan pula tragedi Hiroshima, Saigon, dan lain-lain.

Punya catatan khusus terhadap dunia seni rupa Indonesia?

Terus terang saya agak prihatin. Banyak perupa kurang memperhatikan soal orisinalitas. Padahal itu penting sekali. Malah zaman revolusi banyak yang oke. Tapi sejak Orde Baru semua rusak. Orde Baru merusak orisinalitas berpikir, merusak kecerdasan, dan merusak cara berpikir.

Hakim / Tokoh

Back to article listing