Articles on Enrico

Articles Concerning Enrico Soekarno

Burung Hitam Dari Enrico

Karya Enrico Soekarno memang tepat diketengahkan ke hadapan publik seni rupa Indonesia hari-hari ini. Maklum, beberapa tahun terakhir ini mereka sering dibuat kecewa oleh beberapa "oknum" yang melakukan "pelecehan seni rupa".

Yang paling anyar digelar dalam pameran "Phillip Morris Indonesian Art Award V, 1998", berlangsung Oktober lalu di Gedung Pameran Gambir.

Memang dalam dua dasawarsa terakhir ini seni instalasi telah menjadi kecenderungan baru di Eropa ataupun Amerika Serikat. Masuk kedalam tren ini adalah teknik ungkap mixed media, penggunaan barang jadi (ready mades), dan berbagai ekspresi seperti menyusun, merakit, dan menempel.

Nah, dengan mengatasnamakan mixed media, dalam pameran yang akan membawa nama Indonesia di kancah pergaulan internasional tersebut, terpajanglah karya-karya yang oleh banyak publik seni rupa dianggap lebih layak dikerjakan oleh para "penempel" ketimbang oleh mereka yang berprofesi perupa.

Lihat misalnya karya Ugo Untoro atau Aminuddin TH Siregar. Kalau konsep atau gagasan dianggap segalanya -- itupun kalau konsep mereka kita anggap cemerlang, padahal kenyataannya tidak -- dan persetan dengan bentuk estetika visual, maka pertanyaannya: Lalu dimana gerangan letak profesi perupa berada?

Yang membikin geleng-geleng kepala, di belakang pameran itu, tegak berdiri nama Sunaryo, Fajar Sidik, Made Wianta, Anusapati, dan Jim Supangkat. Jadi, dimana kepala mereka?

Nah di tengah keamburadulan nilai ini, karya-karya Enrico sungguh layak diketengahkan. Dalam karyanya tampak jelas integritasnya sebagai perupa, yang mesti mahir memainkan kaidah-kaidah seni rupa, di samping tak bosan-bosannya melakukan penjelajahan terhadap eksperimen estetika dan perluasan wawasan, baik dari pengalaman batin maupun pergulatan intelektual.

Adapun pelecehan lain, yang juga terus berlangsung dalam dua dasawarsa terakhir ini, adalah pelecehan terhadap media kertas dan tinta (juga pensil dan konte), dalam wujud karya hitam-putih --yang dianggap sebagai media "sudra". Sementara media kanvas dan cat minyak dan akrilik dianggap sebagai media "bangsawan"

Pelecehan ini tentu saja kian memiskinkan khalayak seni rupa kita, yang ujungnya berupa pendangkalan pengalaman estetis. Padahal kita tahu, dalam gelanggang internasional hadir colorist Henri Matisse yang andal. Tapi eksis pula pelukis hitam putih Kathe Kollwitz yang monumental. Dengan bersahaja tapi intens dan mencekam dia gambarkan manusia yang kandas digilas pahit kehidupan. Dan jagat seni rupa pun bergetar.

Dalam kerangka ini, di peta seni lukis Indonesia, Enrico hadir bersama Satya Graha --pematung lulusan Seni Rupa ITB yang beralih menekuni medium kertas dan pensil, dan kini tinggal di Yogya. Juga Aten Waluya di Bandung. Atau Ken Pattern -- pelukis Kanada yang tekun melukis wajah Jakarta dengan media kertas, pena, dan tinta.

Memilih media bersahaja dibidang gambar yang kecil, Enrico seperti sengaja menggamit kita ke pojok sunyi untuk berbincang dengan tenang tentang berbagai tema kehidupan.

Diajaknya kita memasuki dunia kepekaan terhadap garis, ruang, dan cahaya, serta sensibilitas pada sudut pandang (angle) yang artistik dan menggugah rasa. Dengan tebal tipis garis, arsir kasar dan lembut, sehingga menghasilkan dimensi yang hidup, dibawanya kita mengembara bersama pengalaman dan wawasan pribadinya yang luas.

Kita dibawa bercakap-cakap dengan tokoh-tokoh yang ditemuinya dalam pengembaraan fisik ke Nusa Tenggara. Kita dihadapkan dengan Tjambuwal; Nanu Am Benu, The Raja Of Boti; Petani Perbatasan, Kefamenanu; lewat ekspresi dengan kerut mengerut wajah begitu rinci serta ragam hias khas setempat yang digarap sangat cermat.

Rasa keprihatinannya terhadap kebakaran hutan di Kalimantan ditularkannya kelubuk hati kita, baik dengan simbolisme-prosais (Aftermath) maupun lewat simbolisme-puitis (Nisan). Dalam Nisan, lewat gambar potongan bonggol kayu tua, kita dengan keras ditampar tanya: Apakah kita mau hanya nisan kayu nanti yang menandai bahwa hutan rimba Kalimantan memang pernah ada -- dulu, dulu, dahulu kala?

Selain pengembaraan-fisik, kita juga dibawa dalam pengembaraan-batin pelukis yang sangat menggemari Kafka, pengarang yang lahir di Praha, Ceko, dan menulis bahasa Jerman; serta penulis eksistensialis Prancis, Albert Camus, ini.

Dalam La Chute (Kejatuhan) -- yang diambil dari judul novel karya Albert Camus -- digambarkan Lucifer, malaikat yang dikutuk Tuhan dan dijatuhkan dari surga dan menjadi setan (lihat Perjanjian Lama, Yesaya: 14). Dan di dunia, Lucifer menjelma manusia (Louis Cyphre).

Sementara itu, dalam Kafka High, pelukis yang di Roma belajar seni lukis dan di Sydney studi etsa, fotografi, film dan televisi, serta sejarah dan politik ini menampilkan parodi: sosok Kafka sedang menyuntikkan morfin ke lengannya agar bisa ber-"metamorfosis" -- seperti Gregor Samsa dalam novel Metamorfosis (Die Verwandlung) karyanya, yang ketika bangun dipagi hari mendapati dirinya telah berubah rupa menjadi serangga raksasa.

Suasana Kafkaesque (kavka dalam bahasa Ceko artinya sejenis burung hitam yang mengisyaratkan bencana) -- ganjil, muram, sepi, cemas, dan sangsi -- muncul sangat kental dalam karya Enrico: Far how much longer?, The Assassin, The Conversation, The Ripper, dan The Third Man. Dalam karya-karya itu, Enrico menerapkan teknik etsa dan drypoint -- untuk mencapai ekspresi artistik yang pas. Bukan untuk gagah-gagahan agar disebut avant garde.

Tapi, menikmati karya Enrico, kita mesti punya waktu dan kesabaran untuk melihat dan mengapresiasinya. Dengan intensitas yang mencekam, pelukis ini menggambarkan rincian-rincian yang memang tak bisa dicerna sekilas pintas.

Seperti ketika kita menyaksikan lukisan De Nachtwacht (Jaga Malam) di Rijkmuseum, Amsterdam ciptaan Rembrandt, yang kebetulan juga pelukis hitam-putih yang piawai meggarap efek terang-bayang (chiaroscuro). Jika kita terburu-buru -- seperti umumnya turis pengunjung museum itu -- kita akan kecewa dan ngedumel: "Ah lukisan masyhur itu ternyata biasa-biasa saja". Tapi bila mau bersabar dan tenang, serta menikmatinya dengan cermat, kita akan melihat kejeniusan sang pelukis. Kita dibuat menahan napas menyaksikan cara Rembrandt memilih momen yang tepat dalam satu adegan, lukisan detail rumbai pendek tombak di tangan Willem van Ruytenburg, juga kerah si gadis kecil, dan baju hijau gemerlap sang pembawa bendera -- benar-benar suguhan visual yang lezat dan bergizi.

Terutama setelah menikmati Vitava, view from the castle; Nisan; Beth Chaim, house of live; The Assassin; The Conversation; dan The Third Man; saya terkenang Kafka dan kalimat awal study Albert Camus tentang pengarang yang selalu dalam posisi tersisih dan dirundung muram itu: "Seluruh kesenian Kafka memaksa si pembaca untuk kembali membaca ulang", tulis Camus. Dan saya pun ingin kembali menikmati gambar-gambar Enrico tadi, yang sulit dilupakan seperti mimpi buruk semalam.

Eddy Soetriyono
Pengamat seni, jurnalis, dan penyair

Back to article listing