Articles on Enrico

Articles Concerning Enrico Soekarno

Terang Gelap

Pengerjaan diatas bidang / lembaran putih dan sapuan hitam merupakan awal peradaban yang paling mengesankan dari suatu perjalanan bentuk representasi manusia dan alam yang di ekspresikan oleh individu atau kelompok masyarakat dalam pemahaman mereka terhadap kejadian, lingkungan sekitar dan permasalahannya sekaligus jawaban mereka terhadap problem metafisik. Ini adalah merupakan tulisan sebelum manusia menemukan huruf. Akumulasi titik dan garis hitam yang di corat-coretkannya itu lalu memunculkan bentuk, hasil dari rekaman optik dan persepsi si pelukis dalam perjalanannya mematangkan diri sambil mereka-reka cara bagaimana mengutarakannya dalam bentuk gambar / visual.

Menurut saya, Enrico mencoba mengembalikan proses yang bersahaja ini dengan pengisian baru yang lebih padat yaitu dengan perluasan wawasan dan observasi dan kedekatannya dengan subjek yang menggugah dia sebagai media yang akan menyampaikan pesan-pesannya.

Ia menyeruak ke alam berakrab-akrab dengan subjek dan permasalahannya. Dialog diam yang berlangsung terus antara realitas dan yang ideal, perasaan cemas, skeptis dan putus asa silih berganti mampir di sanubarinya. Akhirnya ia sampai kepada keraguan terhadap kata netral, manusia adalah objek dari suatu sistem dimana ia tidak lagi mampu menjadi dirinya dan dengan itu sudah harus menerima keadaan yang fatal dan membelenggu ini sekaligus ia berhenti sebagai pribadi dan anonim.

Faham yang banyak dianut oleh para seniman dan cendekia di tahun-tahun lima puluhan oleh para pengagum Camus dan Sartre, apalagi seniman kita yang sedang berpameran ini adalah sosok pengunyah literatur dan penggemar berat dari Kafka. Enrico berkenalan dengan filsafat existensialis ini dan sekaligus bereaksi sebagai perangsang ketidakpuasannya terhadap keadaan. Sebagai orang yang rindu akan kemesraan alam ia menghabiskan waktunya untuk mengembalikan masa lalu itu diantara hunian dan penghuninya di alam terbuka nun jauh diantara pulau-pulau Nusa Tenggara yang belum terkontaminasi kehidupan modern yang individualis dan kosmetik. Lahirlah dari tangannya berlembar-lembar transkripsi grafis yang memunculkan arsitektur etnik dan ruang yang kelam menyimpan misteri dari suatu perjalanan waktu dan pandangan hidup yang menyatu dengan alam sekitar yang masih ramah tapi tersisih. Apa yang dicarinya disana ? Mencari tempat berteduh ? Deviasi ? Saya rasa juga tidak ! Ia orang yang gelisah ! Gambar potret manusia yang dimunculkannya tidak menunjukkan ekspresi wajah dengan suasana bathin yang tenteram, terasa bagaikan magma dari suatu gunung berapi yang masih menyimpan laharnya. Memang ada tersirat pemihakan dalam hampir kebanyakan karya-karyanya itu. Kemarahannya kepada hipokrisi dan ketidakadilan diyakininya secara verbal dan artistik, namun penyuguhannya tidak mengundang provokasi. Penghargaannya kepada nilai dari unsur-unsur setempat sangat nyata. Iapun mengangkat pancaran wajah penduduknya dan mencoba mendeteksi ketegaran apa saja lagi yang masih tersisa dalam pandangan mereka yang polos ? tapi dilupakan ! Si seniman menjadikan totem, elemen hias mereka sebagai usaha memahami adat istiadat setempat yang mengandung makna. Kesemuanya itu dihadirkan kembali dengan pengerjaan plastis yang menuntut kesungguh-sungguhan dan dengan olahan komposisi piktural yang menawan penuh dengan simbol-simbol yang dirangkum sedemikian rupa mengingatkan kita kepada seni tribal yang menghadirkan bahasa isyarat dan lambang-lambang kosmik dimana semangat pembaharuan bentuk dan simplifikasi yang bertumpu pada mitos dan magis dalam fungsi kolektif penduduknya. Kita menyaksikan juga bagaimana ia mengungkapkan unsur kematian yang mencekam di kegelapan disebuah tanah pekuburan dengan tanduk dan tengkorak kerbau sebagai lambang binatang kosmis yang sangat berpengaruh dikawasan Nusantara dalam hubungannya dengan makna harapan terhadap kelangsungan hidup masyarakat agraris artikan juga sebagai makna berpisahnya arwah dari orang yang hidup untuk beristirahat dialam yang lain, kepercayaan nenek moyang yang masih berakar kuat pada penduduk asli yang masih bisa kita temukan di beberapa tempat di Tanah Air.

Pada karyanya yang lain ada sebuah truk angkutan yang kehilangan satu roda belakang sebelah kanan. Dibahagian depan tempat pengemudi kendaraan itu digambarkan dalam posisi yang berlawanan. Mobil yang sudah mengalami deformasi yang aneh dan tidak normal ini bertumpu diatas tiga roda yang bagian satu sama lain sudah tidak searah lagi, mereka yang dibawa dan yang dipercaya untuk membawa, dalam hal ini pengemudi, sudah melenceng dari tujuan semula yang disepakati sejak awal. Para penumpangnya meningalkan kendaraan tersebut yang sudah tidak utuh lagi dalam keadaan rusak dan berbahaya. Metafor yang sederhana tapi mengundang perenungan terhadap masalah kekinian. Suatu mimpi buruk yang tak jarang hinggap pada individu pada saat-saat tertentu ketika dialog intens dengan apa yang dirasakan nurani dan yang hadir sebagai suatu realitas dihadapan mata telanjang. Kenyataan pahit yang bertolak belakang ini dan rasa ketidak-berdayaan menimbulkan nightmare dimunculkan dalam beberapa karyanya.

Meski ada kemarahan dan sensitivitas terhadap kemanusiaan yang berlaku tapi obsesinya terhadap masa lalu dan waktu sekarang adalah semata-mata untuk lebih marapatkan diri dengan kenyataan dan nilai-nilai luhur dari suatu peradaban dimana sebagian dari itu mengalir di darahnya.

Keong, binatang laut dan fosil yang menjadi saksi waktu, pepohonan tumbuh-tumbuhan yang masih mendapat tempat untuk hidup berdampingan dengan sesama mahluk sebagai sahabat yang tak terpisahkan sejak manusia hadir dibumi, para penakluk dan orang yang ditaklukkan merupakan suatu rangkuman cerita panjang dikarya-karyanya yang bermuara kepada kobaran terhadap harumnya cinta.

Merwan Yusuf

Back to article listing