Articles on Enrico

Articles Concerning Enrico Soekarno

Keindahan Dan Kepiluan Halaman Demi Halaman

Langkah Enrico Soekarno menerbitkan karya-karyanya dalam bentuk buku, pada hemat saya, merupakan keputusan jitu. Karya-karya itu (yang aslinya berupa drawing dan etching, di atas kertas berukuran mungil, dari terkecil 8 x 12 cm hingga paling besar 29 x 47 cm), bila dipajang begitu saja di galeri yang lazim memamerkan lukisan ukuran besar, bisa jadi daya pukaunya bakalan susut, tenggelam dalam ruang, ditelan jarak pandang. Ibarat akting mimik yang kuat dan penuh dengan rinci dari Robert Redford ditampilkan di panggung teater -- sebuah langkah penerapan "skala" yang jelas kurang pas. Lagi pula, siapa yang mengharuskan semua karya seni rupa -- cocok ataupun tak cocok -- mesti digelar di ruang galeri?

Seni Rupa dan Buku Seniman besar Jepang, Hokusai (1760-1849) dan Hiroshige (1797-1858) -- yang kuat mempengaruhi pelukis Barat: Monet, Degas, Manet, Renoir, Pissaro, Toulouse Lautrec, Gauguin, Van Gogh, Whistler, dan Cezanne -- biasa menggelar karya seni rupanya bagi khalayak luas melalui buku.

Di sekitar tahun 1829, Hokusai mempublikasikan buku Fugaku Sanju-Rokkei (Tiga Puluh Enam Pemandangan Gunung Fuji). Berisi 46 lembar ukiyo-e (gambar hasil cetakan blok kayu), buku yang dikeluarkan penerbit Eijudo ini menampilkan seri gambar gunung yang jadi ikon Jepang itu dilihat dari berbagai jarak dan sudut, dalam beragam situasi kehidupan sosial serta pada segala cuaca.

Melalui penerbit Uoei, pada 1856, Hiroshige menyebarluaskan buku Meisho Edo Hyakkei (Seratus Pemandangan Indah di Kota Edo). Buku ini memuat 118 print karyanya yang disusun menurut urutan musim: musim semi (42), musim panas (30), musim gugur (26), musim salju (20). Dan masih ada beberapa lagi buku Hiroshige, antara lain Tokaido Gojusan-Tsugi No Uchi (Dari 53 Pemberhentian di Tokaido) dan Kiso-Kaido Rokujukyu-Tsugi No Uchi (Dari 69 Pemberhentian di Jalan Raya Kiso).

Sementara itu, di Inggris, perupa Aubrey Beardsley (1872-1898) -- yang karya-karya drawing hitam-putihnya antara lain tercatat dalam sejarah seni rupa dunia sebagai kaya dengan metafor tersembunyi dan diungkapkan dengan sophisticated serta penuh pertimbangan -- pun melakukan hal serupa. Demikian pula para perupa avant garde atau kontemporer yang hidup hari-hari ini, banyak di antara mereka yang memanfaatkan buku sebagai media pengungkapan karya seni, dengan berbagai pendekatan masing-masing.

Sebab, kendati media-media lain -- seperti film, televisi, dan video -- sekarang mempunyai peranan penting, buku tetap merupakan pusat komunikasi. Teknik cetak yang mulanya dikembangkan di Jerman pada abad ke-15 memungkinkan buku diduplikasikan hingga ribuan eksemplar dan didistribusikan sehingga menjangkau khalayak luas. Selanjutnya, buku gampang ditenteng dan bisa dinikmati kapan saja dan di mana saja: di meja perpustakaan yang serius, atau di sofa sambil tiduran santai. Buku dalam hal ini bisa berlaku seperti galeri berjalan yang leluasa menelusup memasuki ruang-ruang pribadi. Dan di sana, dialog yang intens pun bisa kita harapkan terjadi.

Selain itu, sebagaimana telah saya singgung di muka, dengan cara begini, karya-karya Enrico rasanya bisa lebih pas dinikmati. Sebuah pilihan "skala" yang tepat. Soalnya, sebagaimana kita saksikan dalam karya-karyanya, perupa ini bekerja dalam detail, berbicara dengan pernik dan rinci, baik dari segi bentuk maupun isi, baik dari segi teknis maupun metafor, baik dari segi rupa maupun narasi. Sehingga, kehadirannya memerlukan jarak pandang yang dekat dan akrab.

Yin-Yang dan Bentuk-Isi

Enrico tidak berniat hanya memprioritaskan isi. Dia menolak Machiavelisme sebagai filosofi kehidupan dan juga dalam laku kesenian. Dia tak hendak menyepak cara demi mencapai tujuan. Dia tak ingin membela secara fanatik "isi" dan mencibirkan bibir kepada "bentuk".

Tapi, Enrico juga tidak mau mengagung-agungkan bentuk. Dia tak berniat memutlakkan eksterioritas. Dia menolak anggapan bahwa masalah seni rupa hanya berpangkal pada soal kasatmata, pada kejadian di atas permukaan kertas atau kanvas atau media apa pun, tanpa perspektif yang lebih jauh, tanpa membuka kemungkinan untuk melihat dan menandai dimensi yang lebih dalam, yang lebih transendental.

Dia memang memilih media hitam-putih. Tapi "estetika hitam-putih"-nya tidak bersifat ekstrem. Melainkan hitam-putih yang dipahami dalam kerangka filsafat yin-yang, selalu menjaga keseimbangan, menuju keharmonisan. Berbekal kertas, tinta, dan pena, Enrico tak hanya menggambar hitam-putih dalam dua blok yang berhadapan secara diametral. Melainkan juga memanfaatkan gradasi, gelap-terang, terang-bayang (chiaroscuro), yang ditimbulkan oleh tingkat kerapatan arsir yang tak terhingga. Belum kekayaan ragam tekanan pena yang mengalirkan tinta dan meninggalkan jejak berbagai rasa: keras, lembut, bergejolak, gemetar. Semua itu dia garap dalam semangat yang sangat hirau akan rinci, serta dengan tingkat ketukangan (craftsmanship) tinggi, sehingga tampak apik dan "selesai".

Kendati demikian, karya-karyanya tidak berhenti menyuguhkan keapikan tamasya visual semata, ataupun pada penampilan keindahan rincian kenyataan belaka. Tak hanya fisik. Tidak melulu badan. Melainkan juga memperlihatkan tamasya, perjalanan, dan pengembaraan batin yang dia alami dan hayati. Membawa hawa sukma. Menghadirkan roh.

Digambarkannya perjalanan mengarungi sudut-sudut negerinya yang kaya hingga pengembaraannya ke negeri-negeri asing, bahkan sampai ke "Negeri Atap Langit". Berangkat dari rumah, lingkungan yang sempit, yakni diri dan keluarganya, dia beranjak keluar, menemui lingkungan kebudayaan yang lebih beragam, serta kenyataan-kenyataan sosial yang lebih luas.

Demikian pula pengembaraan batinnya. Pertemuannya dengan gagasan-gagasan yang ditimbanya dari kesusastraan dunia, keprihatinannya ketika menjumpai lingkungan-lingkungan kehidupan yang dirusak manusia, ataupun kepiluannya tatkala singgah di negeri-negeri yang penduduknya tertindas oleh sesamanya. Negeri-negeri yang adat, seni, arsitektur tradisional, sejarah, serta kebudayaannya sengaja dihancurbinasakan. Semua itu melahirkan renungan-renungan yang kompleks. Yang kemudian dia lukiskan dengan memanfaatkan simbol dan ikon-ikon yang ditimbanya dari khasanah seni yang luas: kadang secara naratif dalam sebuah prosa yang penuh alinea dan memerlukan bekal serebral buat memahaminya; kadang demikian puitis dan utuh serta langsung menyentuh kedalaman batin.

Pengembaraan Tubuh, Jiwa, dan Roh

Demikianlah, berawal dari rumah, Enrico berkisah tentang dirinya yang pernah seperti terperosok dalam kegelapan tapi tetap mencoba tengadah menatap harapan di cerlang cahaya bintang (The Gutter). Tentang dirinya yang dihadapkan pada realitas perkawinan yang dianggap oleh "segolongan masyarakat yang hidupnya penuh dengan hipokrisi" sebagai barang mainan (The Wedding Game). Juga tanggapan tentang ayahnya yang Jawa dan insinyur kimia tapi juga belajar hal-hal yang mistis dan metafisik, yang mengajarkan kepadanya untuk mempelajari segala agama dan ilmu pengetahuan dan memilih yang paling baik serta tepat bagi diri pribadi (The Alchemist). Ibunya yang berasal dari Latvia, serta perkawinan kakak dan iparnya yang juga berbeda bangsa.

Narasi-narasi pribadi ini ada yang diungkapkan dengan menggarisbawahi suasana hati, misalnya pada The Wedding Game, yang lebih memunculkan totalitas gagasan, dan menjauhi detail-detail yang menuju pada kerumitan. Dengan meminjam suasana kesepian, kemuraman, keputusasaan, dan kesia-siaan dari lukisan Vincent van Gogh yang terkenal, Night Café (yang menurut Van Gogh sendiri merepresentasikan "the terrible passions of humanity"), perupa Enrico menggambarkan dirinya yang tercabik-cabik seperti meja bilyar ketika sang kekasih di belakangnya bercintaan dengan orang lain sebagaimana telah diberitakan di berbagai tabloid kuning yang di lantai tampak berserakan.

Tapi ada pula "kisah rumah" yang ditampilkan dengan tata ungkap dekoratif, yang terasa rimbun dan rumit, dengan menyuguhkan berbagai rincian simbol dan ikon yang terlampau bersifat khusus. Mama Latvija, misalnya, yang melukiskan sang bunda di tengah dekapan segala pernik visual yang diambil dari berbagai penanda kota kelahirannya, Riga di negeri Latvia. Dari bangunan berciri Art Nouveau yang dirancang arsitek Eisenstein (ayah Sergei Eisenstein, sutradara kesukaan Enrico), patung-patung kota itu sebelum dan sesudah dijajah Rusia, motif kain dan kerajinan tradisional, sampai figur neneknya dibalut pakaian tradisi bersanding dengan tokoh komunis Lenin.

Demikian pula dalam Khas (diambil dari inisial nama ipar, KH, dan kakaknya, AS), yang menampilkan separo paras kakak perempuannya menyatu dengan setengah wajah iparnya di bagian utama bidang gambar, yang dikelilingi bingkai berukir ragam hias Scot dan Ceko, serta penggalan karya perupa dunia terkenal MC Escher berupa transformasi ikan-burung (dari air dan udara) yang memanfaatkan ruang negatif-positif serta hitam-putih. Di sini, agar karya-karya semacam ini bisa lebih berbicara, kita mesti mengenali secara serebral asal muasal lambang, simbol, dan ikon-ikon itu.

Dari rumah pribadinya, Enrico mulai berjalan keluar, mengunjungi lingkungan yang lebih luas. Maka, dia pun mengisahkan tanggapan hitam-putihnya atas dua presiden negerinya yang dinilainya saling bertolak belakang. Dalam karya berjudul Shadowplay ini, Soekarno dan Soeharto disorot dalam pendekatan wayang, dalam kerangka berpikir oposisi biner: hitam dan putih, bawah dan atas, gelap dan terang, buruk dan baik, angkara yang durjana dan kebenaran yang suci, Kurawa dan Pandawa, Sengkuni dan Arjuna.

Dalam Caricatures of Circumstances and Their Human Being, Enrico lebih menyelam ke dalam, tatkala dia diminta memberi ilustrasi untuk kumpulan cerpen Cerita dari Jakarta karya sastrawan besar bangsanya: Pramoedya Ananta Toer. Dengan mengerjakan pesanan itu, dia merasa diajak memahami dan berempati pada manusia-manusia yang kalah dan dimarjinalkan dalam kehidupan keras kota Jakarta, mereka yang kecewa karena revolusi ternyata melahirkan situasi yang jauh dari harapan. Dia juga jadi ikut menyaksikan munculnya priayi-priayi baru yang bermental sangat feodal justru setelah negerinya lepas dari penjajahan Belanda.

Di luar rumah pula Enrico bisa menyaksikan kekejaman dan kekerasan dari makhluk yang menyatakan dirinya berakal budi, berketuhanan yang mahaesa, dan berkemanusiaan yang adil dan beradab: yaitu peristiwa "kerusuhan Mei 1998", yang diduga dipicu oleh salah satu korps tentara berbaret merah, tapi yang hingga kini tak kunjung diselidiki. Adakah memerangkap manusia renta, dewasa, remaja, bayi, lelaki dan wanita, ke dalam ganasnya api, serta perkosaan sangat sadis dan massal pada wanita etnis tertentu, bisa dibenarkan dalam sejarah peradaban manusia? Begitu pertanyaan yang meruap dari karyanya yang bertajuk Atrocity Exhibition.

Kekerasan dan kekejaman tentara bahkan terhadap bangsanya sendiri juga terjadi dalam kurun yang panjang di ujung negerinya, yang digelari Serambi Mekah. Dalam karyanya berjudul AD (bisa singkatan dari Anno Domini, bisa Angkatan Darat, bisa Aceh Daerah-operasi-militer), Enrico menggambarkan bahwa pembunuhan massal oleh pasukan tentara atas penduduk yang beriman sama itu diarsiteki jenderal berbintang lima (Soeharto), yang wajahnya berupa tengkorak elmaut, dan otaknya penuh dengan rencana pembantaian atas sesamanya.

Melakukan perjalanan ke Kalimantan, Enrico kembali menemui fakta kebrutalan dan kesadisan manusia, kali ini dari mereka yang tak peduli dengan nasib para anak-cucunya. Di sini dia menyaksikan bagaimana kekayaan hutan bangsanya dikeruk dan kemudian dibinasakan oleh segelintir manusia yang berpikiran sempit dan pendek: mendahulukan keserakahan duniawinya untuk diri sendiri hari-hari ini. Dengan simbolisasi yang utuh dan sederhana, dia telah berhasil menggocohkan protes serta keprihatinannya yang mendalam lewat karya bertajuk Tomb, Air Api, dan Aftermath.

Dalam Air Api dan Aftermath kembali Enrico menimba inspirasi dari karya-karya Van Gogh, pelukis yang dikaguminya dan telah mengilhami dirinya sehingga memutuskan memilih jalan hidup sebagai perupa. Perhatikan penggambaran api yang bergolak dan berdenyar berputar melingkar-lingkar, serta lautan ilalang yang gersang menggelombang, dalam Air Api, yang mengingatkan kita pada gerak Starry Night dan Wheat Field with Reaper at Sunrise.

Juga sisa tunggul pohon yang tampak bagaikan nisan penanda kematian hutan (Tomb). Lihat pula pohon-pohon kering menghitam setelah ditebang orang dan dilanda api bandang pada Aftermath, yang digambar dengan sudut pandang yang meneropong hanya bagian bawah pohon, dengan hamparan tanah luas di mana langit absen. Ini membuat kita terkenang pada lukisan Tree Trunks with Ivy dan Pine Trees and Daendelions in The Garden of Saint Paul Hospital karya Van Gogh. Bedanya: tanah Van Gogh penuh lumut hijau, tumbuhan rambat, serta bunga daendelion dan ivy, sedangkan pada Aftermath hanya ada hamparan abu dan arang serta sisa tengkorak yang meniupkan pesan bahwa di situ tak ada lagi kehidupan.

Kembali pada kekerasan dan kesadisan oleh manusia atas manusia, oleh tentara atas bangsanya sendiri, Enrico juga mendengar kabar bahwa hal itu tak hanya terjadi di Serambi Mekah, melainkan juga muncul di ujung timur negerinya: Timor Timur. Bermaksud bisa ikut serta memberi kesaksian, dia pun melakukan perjalanan menuju daerah yang kini telah merdeka dari penjajahan Portugal, keluar dari cengkeraman Indonesia, dan menjadi negeri berdaulat itu.

Dalam perjalanan tersebut, Enrico melewati Bali. Di sini senar artistiknya masih bergetar menyaksikan keindahan angkul-angkul, dihiasi keliaran taman bali yang dilebati pokok-pokok kemboja, dengan bulan sabit di langit yang laksana perahu emas dibalikkan gelombang awan (The Bounty). Juga oleh suasana mistik dan magis di gelap malam di bawah pohon-pohon beringin tua di pura, yang menyebabkan dia bisa membayangkan dengan terang, apa kiranya yang terjadi di dongeng Calon Arang (At The Temple of Durga).

Di Nusa Tenggara Timur (Flores, Savu, Roti), Enrico tertarik dan mengabadikan orang-orang yang ditemuinya, memunculkan wajah-wajah mereka yang khas (Finito dan Deo Rai). Tak lupa pula Enrico mengguratkan penanya untuk menangkap wajah-wajah yang bangga dengan budaya tradisi yang mereka junjung, antara lain melalui kain tenun ikat yang mereka kenakan sebagai pembungkus tubuh. Dengan sangat teliti hingga ke renik paling rinci, Enrico melukiskan beragam motif yang menghias indah pakaian penutup badan itu (perhatikan misalnya gambar Wolotopo Weave dan Petani Perbatasan).

Dia juga menggambarkan dengan cermat sekali ragam hias di batu-batu misterius berwarna kehijauan yang terdapat di tengah Desa Bena, Flores. Entah berapa abad sudah lamanya Batu Bena itu ada di sana, dan hingga kini pun tak juga diketahui dari mana datangnya apalagi gerangan siapa pembuatnya. Batu-batu raksasa yang tersusun sejak zaman megalitik di Desa Wolotopo, Flores, juga dia gambar, dan dari situ kita diajak menikmati keluasan angkasa dan samudra serta lanskap Teluk Ende yang terasa purba dan hadir sebagai alam yang begitu murni (Wolotopo Stones).

Lanskap-lanskap lain yang ditangkap radar estetiknya adalah deretan pohonan meranggas di Pulau Savu (Savu Section), yang membuat kita langsung terdorong mendeklamasikan baris sajak Chairil Anwar: "sepi, menekan, mendesak; lurus kaku pohonan, tak bergerak". Apalagi di sana seekor anjing melintas lambat, membuat sepi itu kian "memagut" ulu hati. Lanskap ini juga mengingatkan kita pada deretan pepohonan di Arles, Prancis Selatan, yang sering digambar oleh Van Gogh di bawah terang kilau matahari.

Adapun dalam The Bridge, Enrico menghadirkan gambar pohon tua besar, yang tampak rimbun oleh daun, berotot kekar, dan berdiri kokoh, namun diam menghunjamkan akar. Keperkasaan yang diam itu, oleh Enrico, sengaja disandingkan dengan ringkih deretan bambu yang ternyata liat menanggung beban ketika berperan sebagai jembatan.

Kembali pohon, kembali batu. Kali ini pohon besar tua, penuh rimbun daun, merindangi tumpukan batu purba yang secara sederhana menyusun kursi. Konon di sini, di The Mercy Seat, Kapten Cook istirahat sesaat dalam lelah perjalanannya menuju Benua Australia -- yakni benua tempat lahirnya Simon Peart, seniman pertunjukan yang digambar Enrico sebagai wujud inkarnasi dari manusia Aborigin bernama Tjambuwal (Spirit dan Tjambuwal)

Gambar-gambar pohon yang telah saya sebutkan di atas (dari Tomb, Savu Section, The Bridge, sampai The Mercy Seat) seolah tampil tanpa dibebani "pesan". Begitu pula gambar pepohonan di sebuah kuburan di Kupang, Timor Barat (Kupang Grave). Di sini, dengan kembali "mencuri" (bukan "meminjam"; merujuk pada ucapan penyair besar TS Eliot: "penyair buruk meminjam, penyair baik mencuri") -- ya, dengan kembali "mencuri" idiom Starry Night, Enrico melukiskan pohon-pohon yang mengering sunyi, dengan "langit berombak, bulan di sana" (saya nukilkan dari sajak Taufiq Ismail: Ode buat Van Gogh).

Tapi, dari gambar-gambar jenis ini -- yang tak lagi terlalu dekoratif, tak lagi menuturkan narasi prosa dengan banyak alinea -- Enrico telah berhasil menunjukkan kekuatannya: puisi yang menyentuh hati. Dari gambar yang seolah tanpa beban "pesan" itu malah muncul semacam gumam lirih mengirimkan message, yang kemudian memantul, menggaung, menggema berulang-ulang seperti tak berkesudahan.

Di kawasan Timor Barat, Enrico juga mencoba mengenali manusia-manusia setempat, dari raja hingga petani, dan mengabadikannya secara lengkap dan teliti sampai rincian paling mungil dari ragam hias yang mereka gunakan (Nanu Am Benu, Petani Perbatasan, dan Ancient Atambuan). Patung ataupun totem hasil peradaban mereka pun tak ketinggalan dicatatnya (Totem Timor).

Sesampainya di Timor Timur, kembali Enrico mencatat wajah manusianya. Ini waktu yang diabadikan adalah gadis kecil suku Tetun yang sedang tersenyum gembira (Little Tetun Girl). Tapi senyum sang gadis itu jadi sirna dan tak mampu menawarkan kepiluan hati Enrico, ketika dia menjumpai fakta bahwa hanya tinggal sisa dua rumah tradisional yang ada di Timor Timur. Maka langsung saja dia mengabadikannya dalam karya berjudul Desa Rasa. Yang lain? Telah sirna dimusnahkan tentara Indonesia dalam rangka program "cultural genocide".

Kekerasan kian terasa ketika Enrico melanjutkan langkah ke desa Los Palos yang hancur lebur, porak poranda (Los Palos). Di sana pula dia gambar dengan saksama sebuah truk rusak yang dibiarkan ndongkrok dan rongsokan. Rodanya tak lagi lengkap. Bentuknya pun sudah sangat terdistorsi, malang megung, badan ke sana kepala ke mana, serba tak jelas arahnya. Diberi judul The State of Things, gambar yang tampil tanpa latar belakang itu merangsang kita untuk membaca metafornya. Sebuah karya sederhana yang dalam kesatuan dengan buku ini lalu jadi memiliki daya subversi yang sungguh luar biasa. Mengundang perenungan.

Setelah sempat mendaki Tata Mai Lau, yang di Timor Timur merupakan gunung tertinggi, Enrico kembali ke Dili, dan menjumpai pembantaian di Santa Cruz. Mengunjungi Timor Timur, bagi Enrico, jadi seperti mengunjungi kuburan. Maka, sebagai ziarah kemanusiaannya, digambarnya kuburan Maubesi Morituri. Kuburan itu seolah seperti saksi-saksi bisu, membujur kaku tapi tetap mampu mengisahkan banyak hal.

Sedangkan dalam Tutuala Grave, Enrico melukiskan langit dengan matahari berdenyar-denyar menyinarkan harapan. Ya, "Tak ada matahari yang tanpa bayang-bayang, dan mengenal malam adalah keniscayaan," kata Albert Camus (1913-1960), dalam esainya yang terkenal Le Mythe de Sisyphe. Sastrawan absurd pemenang Nobel Kesusastraan 1957 itu memang penulis yang dia kagumi, dan buku-bukunya dia baca dengan saksama, sehingga Enrico pun terdorong pula untuk menciptakan karya berjudul L'Etranger dan La Chute. (judul-judul yang diambil dari dua novel Camus termasyhur).

Selain Camus, Enrico juga sangat berminat membaca karya-karya sastrawan Kafka (1883-1924). Antara lain novel The Trial (Der Prozess), The Castle (Das Schloss), dan The Metamorphosis (Die Verwandlung). Dalam membaca karya-karya Kafka, adalah keliru bila kita hendak menafsirkan segala sesuatunya secara detail. Simbol-simbol Kafka selalu bergerak hidup, tidak beku, dan tidak bisa ditafsir kata demi kata. Karyanya adalah karya yang utuh, dengan rangka terbuka. Dan, dengan itu, Kafka tidak menghendaki pembaca yang segera merasa selesai dengan apa yang dibacanya begitu kalimat terakhir menutup cerita. Kafka menuntut pembacanya untuk kreatif. Bukan dalam arti mencari apa yang tersirat, tapi dalam arti ikut mengisi dengan kekayaan batinnya sendiri apa yang tidak tersurat. Seluruh kesusastraan Kafka bukanlah serangkaian kode yang masing-masing telah tersedia kuncinya. Kafka bukan pencipta teka-teki.

Nah, karya-karya Enrico yang kuat, yang sepertinya "tanpa pesan" tadi, yang antara lain telah saya sebutkan di atas, juga menuntut "pembaca"-nya untuk berlaku seperti itu. Dalam karya-karya itu, Enrico menghadirkan kekuatan artistik yang diserapnya dari menggeluti konsep estetika Kafka (1883-1924).

Tapi, perupa yang studi melukis di Italia, dan mempelajari etsa, fotografi, film dan televisi, serta ilmu sejarah dan politik, di Australia, ini juga menciptakan karya-karya yang diilhami langsung oleh kehidupan Kafka (misalnya, In A Lonely Place, Vltava, dan Gerhana Praha). Dalam gambar yang diberi judul In A Lonely Place, Enrico memotret pengarang itu dalam wajah yang sunyi, murung, sendiri, dan mengawang-awang, dalam lingkungan landmark kota kelahirannya, Praha, Ceko.

Dalam hidupnya, Kafka memang merupakan pribadi yang terkucil dan selalu dirundung murung. Sebagai Yahudi, dia terputus dari orang-orang Jerman, kendati dia berbahasa Jerman. Sebagai penduduk Praha, dia tinggal di lingkungan Jerman, sehingga terputus hubungannya dengan masyarakat Ceko, yang merupakan mayoritas penduduk Praha. Dan, karena secara jasmani lemah, Kafka -- yang meninggal dalam usia 41 tahun karena mengidap penyakit TBC -- juga terasing bahkan di keluarganya sendiri. Dia tak cocok dengan ayahnya. Tak merasa cocok dengan pekerjaannya di kantor asuransi. Dan pertunangannya selalu putus sehingga dia tak pernah menikah hingga akhir hayatnya. Franz Kafka adalah minoritas di mana-mana.

Lalu, dalam Vltava, view from the castle dan Gerhana Praha, Enrico menggambar hamparan satu sudut kota Praha yang menjadi inspirasi cerita-cerita Kafka.

Adapun gambar-gambar Enrico yang sumber inspirasinya adalah suasana pada novel-novel Kafka, antara lain, The Third Man, The Assassin, The Conservation, dan The Reaper. Sebagaimana nama penulisnya ("kavka", dalam bahasa Ceko, berarti sejenis burung hitam yang mengisyaratkan bencana), kisah-kisah rekaan Kafka selalu meruapkan keganjilan, kemuraman, kesia-sian, kesepian, dan kecemasan (Kafkaesque). Cerita-ceritanya juga merupakan ayunan abadi dari paradoks dan kontradiksi, antara yang wajar dan yang fantastik, antara yang individual dan yang universal, yang tragis dan yang sehari-hari, yang absurd dan yang logis.

Menatap gambar The Reaper, misalnya, terbayang ulang di benak saya suasana yang dihadapi oleh Joseph K. Tokoh dalam cerita The Trial ini tidak tahu dituduh apa ketika duduk sebagai pesakitan di pengadilan yang muram, sementara pengacaranya seperti tidak membelanya, sehingga selanjutnya dia diadili tapi tidak tahu dihukum apa, dan dia pun tidak bertanya, dan tetap saja menjalani hidup seperti biasanya. Sampai suatu ketika datang dua lelaki berpakaian bagus, necis, rapi, serta berperangai halus dan santun, yang meminta agar dia mengikuti mereka. Dengan sikap sangat hormat, mereka membawanya ke sebuah daerah pinggiran kota yang muram, pengap, sedih, kotor, dan berdebu, kemudian meletakkan kepalanya di atas sebuah batu yang dingin, lalu menyembelihnya dengan wajar. Sebelum meninggal, si terhukum hanya berkata datar: "Seperti anjing."

Mengunjungi Praha, Enrico juga mengabadikan kuburan tua Yahudi di bagian kota tuanya (Beth Chaim). Tumpukan nisan yang morat-marit tak keruan, mengisahkan kembali kenangan lama, ketika tentara Nazi menimbun begitu saja kuburan lama dengan mayat-mayat baru dari orang Yahudi yang binasa setelah mereka siksa. Rupanya, di bawah kekuasaan Hitler, tidak ada tempat yang baik bagi warga Yahudi, bahkan setelah mereka mati.

Sebagai perupa yang hirau akan problem-problem sosial di sekitarnya, Enrico juga mengungkapkan keprihatinannya akan soal narkoba, yang ikut memuramkan, membuat cemas, masa depan sebagian generasinya, menenggelamkan mereka dalam mimpi-mimpi ganjil serta fatamorgana psychedelic.

Dalam sebuah karyanya, Kafka High, yang diilhami adegan film Naked Lunch karya David Cronenberg, yang didasarkan pada kisah William Seward Burroughs, seorang novelis Amerika Serikat yang kecanduan morfin (perhatikan juga karya berjudul Interzone, yang menampilkan figur novelis tersebut), Enrico menggambar sosok lelaki yang sedang menyuntik diri sambil berujar: "It's a Kafka High. It makes you feel like a bug."

Ucapan ini mengingatkan kita pada alinea pembuka The Metamorphosis karya Kafka, yang mengungkapkan kisah sang tokoh utama, Gregor Samsa, seorang salesman keliling. Seorang yang selalu merasa ditimpa beban berat bila hendak berangkat kerja, tapi tetap harus disiplin bangun pagi, mengejar jadwal kereta api, mengejar target penjualan, dan menghadapi tekanan atasan. Seorang yang harus menjalani itu semua setiap hari, karena dia mesti menanggung beban ekonomi keluarga dan hutang-hutang orangtua. Seorang yang didera habis-habisan oleh hidup yang tegang dan lelah, dan di suatu pagi, ketika bangun dari mimpi-mimpi buruknya, dia mendapati dirinya berubah menjadi kecoa raksasa yang sedang telentang di tempat tidur ("As Gregor Samsa awoke one morning after disturbing dreams, he found himself transformed in his bed into an enormous bug.").

Pada karya yang lain, Dead Souls (sebuah judul yang diilhami novel satire karya Nikolai Gogol, penulis Rusia yang masyhur), Enrico mengambil inspirasi dari bagunan karya Antonio Gaudi, lukisan Edward Munch, dan ukiyo-e Hokusai, untuk mencoba melukiskan secara visual halusinasi yang muncul di benak para pengguna "drugs".

Dan hatinya kian pilu ketika menyaksikan bahwa di Amsterdam, Negeri Belanda, para pengedar drugs bahkan berkumpul di sebuah gereja tua, di distrik lampu merah, berbaur dengan pelacur dan turis (De Oude Kerk). Kenyataan ini juga mencuatkan ironi lain: sebuah tempat ibadah kini tak lagi jadi tempat kegiatan religius, tapi jadi objek wisata. Rasa perih yang sama dialami perupa yang menempuh jalan Buddhisme ini ketika menyaksikan pengelolaan Borobudur di negerinya. Demikian juga ketika dia mengelana ke Khmer (Kamboja), untuk mengunjungi bangunan kuno berupa biara-biara Buddha yang besar, yang dibangun pada abad ke-12 oleh raja Jayawarman VII: antara lain Banteay Kdei dan Preah Khan.

Di kompleks Banteay Kdei (artinya: "kota benteng dengan kamar-kamar bagi para biksu"), yang luasnya 500 m x 700 m dan bertembok setinggi 3 m, Enrico tertarik mengabadikan sebuah sudut bagian terkenal bangunan itu, yang disebut "Hall of the Dancing Girls", sebuah ruang di mana dindingnya berceruk-ceruk, tempat apsara-apsara menari-nari di atas bunga padma. Sementara Preah Kahn (artinya: "pedang suci") adalah kompleks bangunan di atas lahan seluas 56 hektar, yang di abad itu merupakan sebuah pertapaan dan pusat pengajaran Buddhisme. Di sini, ribuan citraan Buddha ditatah di dinding hingga tampak berkilauan bagai bintang bertaburan.

Dengan amat cermat Enrico mengabadikan rumit dan halusnya pahatan puncak kejayaan kesenian Angkor. Di mana hiasan dipahat seperti mengukir permata, oleh tangan yang lebih mirip tangan pengrajin emas ketimbang tangan pemahat batu. Tapi Enrico juga menunjukkan bahwa semua itu bersifat fana, dan tinggal masa lalu, sisa-sisa reruntuhan yang kini direnovasi bukan sebagai situs religius, tapi sekadar objek kunjungan turis, yang bisa meningkatkan pendapatan ekonomi Kamboja.

Bahkan nuansa religiusitas juga telah pudar di tempat sunyi di Atap Dunia, di Shangri-La, ketika Enrico melanjutkan ziarahnya di Tanah Salju itu. Di kota Lhasa, Istana Potala memang masih tegak di sana. Dari wujudnya, seperti tak kurang suatu apa. Tapi ternyata rohnya telah sirna. Dengan melontarkan bom dan mortir dari angkasa dan darat, invasi China pada 1949, disusul pada 1959, telah meluluhlantakkan 90% dari ribuan biara yang ada dan menewaskan beribu-ribu pendeta Buddhis. Sejak itu, Pemerintah China terang-terangan sengaja membabat penduduk asli dan membinasakan total kebudayaan Tibet (March 19).

Ratusan ribu rakyat Tibet telah mengungsi. Tapi kelahiran dibatasi. Dan Tibet pun dibanjiri orang Han. Jadilah orang Tibet minoritas di negerinya sendiri. Orang Tibet asli tak boleh mendirikan sekolah. Bahasa Tibet tak diajarkan di sekolah. Para biksu diawasi ketat. Biksu senior tak diperbolehkan mengajar. Ribuan biksu diusir dari kuil, dan dicuci otak. Maka, jadilah Lhasa yang diziarahi Enrico kota yang kehilangan jejak sejarah. Berubah dari kota pusat pemerintahan Buddhis Tibet yang sarat budaya dan bernuansa spiritual menjadi kota bisnis dan wisata. Yang tersisa: hanya generasi muda yang bergaul di plaza, diskotek, tempat karaoke, dan melupakan akar sejarahnya. Yang tersisa: para biksu yang hanya berani hidup di biara. Dan: sisa bangunan tua yang akan dijadikan tontonan turis. Bukankah Istana Potala pun kini tinggal museum.

Lalu, apa yang diabadikan Enrico dalam gambar-gambarnya? Antara lain kawasan biara Pelkhor Chode, yang dibangun pada 1414, di kota kecil Gyantse, 264 km di barat daya Lhasa. Enrico mengabadikan bangunan yang termasyhur karena thangka Buddha raksasanya itu dari tingkat lima Bodhi Stupa, yang dikenal dengan nama Gyantse Kumbum. Tinggi 35 meter, terdiri dari enam tingkat, berdenah mandala, stupa terbesar di kawasan Tibet ini punya 75 ruang doa dan 1.000 citra Buddha.

Selain itu, direkamnya pula bangunan paling tua di Tibet (umurnya 2.000 tahun lebih): Stupa putih Yambu Chorten, yang bagai menyembul hadir di tengah-tengah kawah, karena berdiri di lembah yang dikelilingi perbukitan di Yambu Lakhang. Dalam keheningan yang tenteram, jutaan Lung-Ta (bendera doa yang ditulisi sutra, dan terdiri dari lima warna sebagai lambang tanah, api, air, udara, dan angkasa) tampak tergantung dan melambai tertiup angin. Angin perbukitan yang sejuk, yang menghantar doa-doa mereka terbang sampai ke surga. Termasuk doa agar Dalai Lama XIV bisa kembali pulang.

Sejak 17 Maret 1959, inkarnasi ke-14 Buddha Welas Asih itu memang mengasingkan diri di Dharamsala, India, dan dari sana terus berjuang untuk mendapatkan kembali Tibet. Tapi, hingga hari-hari ini, upayanya itu tak menemui titik terang. Bahkan, di Tibet, fotonya pun telah dianggap sebagai barang illegal.

Meski begitu, lilin-lilin tetap dinyalakan. Harapan tak pernah hilang (Eternal Flames). Dan dalam gambarnya yang diberi judul Ocean of Wisdom, Enrico tetap menggambar Sang Dalai Lama XIV itu dalam wajah adem dengan senyum yang tulus, penuh welas asih.

Ya, Sisifus memang mesti mendorong batu ke puncak bukit, dan sesampainya di atas sang batu akan menggelinding ke bawah, untuk kemudian Sisifus mesti mendorongnya ke atas kembali, begitu berulang-ulang tanpa kesudahan. Tapi, menurut Albert Camus, "Kita harus membayangkan bahwa Sisifus bahagia." Dan dengan begitu, kita tidak bunuh diri, dan melangkah lagi: bahwa hidup masih layak dijalani.

Eddy Soetriyono

Back to article listing