Articles on Enrico

Articles Concerning Enrico Soekarno

Gambar Dan Testimoni

Gambar dan Testimoni

“…Whereas the document is at best waiting for the interpretative use that will give it a meaning, if not ‘its’ meaning, the testimony wants to be seen or heard immediately, even if the most significant (or most disturbing) testimonies have often, too often, been received with much delay. A sense of urgency, usually prompted by situations of crisis or of change, such as the one that we are living today – of which I have mentioned a few obvious features – almost necessarily leads to favouring the immediacy and warmth (or emotionalism) of the testimony over the distance and comparative coldness of the document”. - Jean-Francois Chevrier 1)

Apakah gambar-gambar ini karya yang bertumpu sepenuhnya pada kekuatan dokumenter? Atau lebih condong sebagai konstruksi, rekaan atau imajinasi seorang perupa? Pertanyaan semacam ini mungkin paling menarik diajukan pada karya Enrico Soekarno di pameran “Out of Tibet” ini.

Karyanya dengan cermat ‘merekam’ wajah orang-orang -orang biasa maupun sosok sangat dikenal- , sudut pemandangan, situs yang khas, kerancaman bentuk dan hiasan pada bangunan, juga peristiwa dengan nuansa politik yang kental. Semua itu bersangkut-paut dengan (suasana) Tibet.

Namun kecermatan dan kekuatan rinci gambarnya tidak menyajikan ketepatan fotografis. Karya Enrico adalah gambar yang diproduksi oleh kecermatan tangan sang perupa. Sebagai gambar, karya ini tetap berjarak dengan karya dokumentasi yang kita sebut sebagai foto. Jarak ini kentara karena kualitas dan efek gambar (picturesque), 2), namun juga oleh tataran ‘kadiah obyektif’ yang melandasi praktik keduanya. Dokumentasi fotografi dikenal sebagai proses ‘merekam’ melalui alat mekanikal, karena itu dianggap bukan produk imajinasi. Tapi apakah gambar yang dibuat dengan cermat berdasarkan foto - seperti karya Enrico di pameran ini - dapat serta-merta disebut sebagai karya imajinatif? Bukankah di masa kini, foto pun dapat digubah begitu rupa, mampu tampil layaknya gambar atau hasil rekaan? Yang kita tahu, karya hitam putih Enrico ini menggunakan acuan sejumlah foto yang sudah ada sebelum karyanya dibuat.

Pada karya Enrico, gambar memperoleh sifat denotatif. Itulah yang kita sebut sebagai kekuatan makna “asli” yang seakan memang ingin ditekankan oleh penggambarnya. Lagi, bukankah denotasi itu berasal dari foto yang dirujuknya? Agaknya, persinggungan, tali-temali, bahkan lalu ketaksaan antara sifat denotatif dan citra dokumenter pada gambarnya adalah salah satu yang menarik disimak pada pameran ini.

Gambar dan dokumen Kira-kira sepanjang satu dekade lebih belakangan ini, kita dikepung oleh maraknya gagasan mengenai “orisinalitas gambar” di lingkungan seni rupa kita. Seni gambar melejit, tampak sebagai seni yang “orisinal”, justru tatkala pandangan kritis seni kontemporer menampik, sepenuhnya maupun setengah hati, gagasan ihwal “kejeniusan” atau “keorisinalan” dalam penciptaan karya seni. Apakah ini suatu paradoks penerimaan? pikirku setengah ragu.

Kendati para penggambar, baik di lingkungan yang dianggap sebagai “seni rupa” maupun yang “bukan seni rupa” (ingat misalnya perkembangan sekitar “komik”) tak dapat dikatakan niscaya menguasai seluruh medan gambar - baik penciptaan maupun tafsir tunggal terhadap makna gambar- namun para penggambar adalah mereka yang tetap percaya diri untuk mencetuskan gambar-gambar “orisinal” mereka sendiri. Yang saya maksud dengan “orisinal” adalah pengertian yang selama ini sering kita dengar, yakni khususnya segi penciptaan, bukan resepsi atau pembacaan terhadap gambar. Yakni, jejak autografis yang paling ekspresif, semacam cap “subyektif” yang melekat pada penciptaan gambar. .

Namun, penolakan pada yang “orisinal”, dekonstruksi yang menyerang kesenjangan antara “seni” dan “kenyataan”, (“dedifferensiasi” ) yang nyaring diperdengarkan oleh perupa kontemporer, sekaligus juga berarti robohnya hirarki. Itulah yang membuka jalan bagi tumpah ruahnya gambar. Kini kita saksikan maraknya segala macam gambar sebagai karya “seni rupa”. Gambar adalah coret-moret dengan serangkaian pesan nyeleneh, (dari komik foto-copy-an “Daging Tumbuh” sampai karya Eko Nugroho), atau gubahan para master penggambar yang begitu tekun dan canggih (Satyagraha (1948-2007), Sekar Jatiningrum, Eddie haRA sampai S.Teddy D). Pluralitas gambar adalah sesuatu yang terasa tak dibuat-buat, karena itu barangkali memang tak pernah ada semacam arus utama dalam “seni rupa” gambar.

Sebenarnya, boleh jadi belakangan kita lebih tercekam oleh hasil kerja para penggambar, ketimbang misalnya para pelukis atau pemotret. Ingatlah gambar-gambar hitam putih yang memandang dunia sekeliling kita layaknya kubangan neraka, dipenuhi oleh mahluk kere maupun perlente -namun berjiwa manubilis- seperti telah dipersembahkan dengan khidmat - sekaligus mendidih- oleh Semsar Siahaan (1952 - 2005.). Atau, “room of mine”, gambar-gambar berwarna hasil kepintaran dan kelicinan Agus Suwage dalam permainan atribut dan perayaan tanda-tanda, yang merubung identitas palsu potret diri-sosial senimannya. Tapi sekali lagi, tentunya kita tidak menganggap karya Siahaan atau Suwage sebagai karya dengan kekuatan “fakta” sosial atau sejarah, kendati misalnya dapat digunakan sebagai salah satu rujukan untuk analisa sosial yang “aktual” melalui karya seni rupa. Boleh jadi karya “produk imajinasi” semacam itu adalah dokumentasi berharga. Namun, konon, memang bukan “fakta-fakta” yang menjadi pokok soal pada representasi karya para perupa ini.

Tibet, imanensi simbol ? Pernyataan Enrico ihwal segi tertentu gambarnya menunjukkan kaitan antara gambar dan kenyataan sosial yang pernah ada:

“…Aku mulai menggambar karena bertualang, peralatan dan media karya seniku harus muat ke dalam ransel dan tidak merepotkan kalau harus loncat kereta ataupun ferry. Itu alasan pertama dan praktisnya. Alasan kedua adalah ketika aku berada di Timtim pada saat pembantaian Santa Crus, aku saking shocknya sampai tidak bisa membayangkan warna lagi, maupun berkarya yang indah-indah. Jadi di Timtim aku berikrar untuk tidak menggunakan warna sampai Soeharto mati!”

Bukankah dengan demikian ada sifat imanen-politis pada karya hitam putihnya? Kecenderungan untuk menyelundupkan simbol imanen dapat kita lihat pula pada karya gambarnya di pameran ini.

Gambar-gambar “Out of Tibet” muncul melalui suatu konteks perjalanan dan ingatan personal penggambarnya. Yakni, dari komik Tntin sampai film Bertolucci, dari pertemuan dengan Dalai Lama hingga keberpihakan terhadap kondisi Tibet sejak penyerbuan oleh tentara oleh Cina ke wilayah itu pada Maret, 1949. Oleh semangat dan empati semacam itu, Enrico berada di balik sejumlah kegiatan yang menyokong upaya pemerdekaan Tibet melalui Yayasan Atap Dunia, didirikan pada 2006 di Jakarta. Bagi Enrico, Tibet seakan adalah semacam perjumpaan lagi, suatu deja-vu…

“Semua cara akan aku coba untuk membantu orang-orang yang tujuan hidupnya adalah membantu orang lain. Selain itu aku bergerak di Yayasan Atap Dunia untuk mendidik bangsaku sendiri. Yayasan ini tercatat sebagai Tibet Support Group yang bergerak di bidang kebudayaan, tidak politik seperti yang lainnya. Selain kita gak punya DPR yang akan memperjuangkan bangsa lain, bangsa sendiri aja tidak diurus. Kami memang seniman semua, jadi ingin membuat awareness campaign hanya melalui karya-karya…”, kata Enrico.

Suatu gambar yang baik, konon dapat dengan tepat menunjukkan posisi di mana sang penggambarnya berada. Itulah posisi penggambar terhadap obyek yang digambar. Namun kita masih memerlukan suatu penopang untuk mengisi posisi semacam itu. Barangkali itulah pesan atau bahkan sublimasi dari pesan, yang memberikan bobot lebih pada suatu gambar. Kita tahu, gambar adalah subyek-naratif, niscaya terkait dengan kisah. Kisah merangkai satuan ruang dan waktu yang menyiratkan konteksnya, Pada gilirannya, “subyek-naratif” adalah subyek yang juga memberi tempat dan kemungkinan pada angan-angan pemirsanya mengenai kisah-dalam-ruang-waktu.

Enrico mungkin telah menjadi semacam duta-seniman bagi persoalan akut sosial politik Tibet di masa kini. Namun keterlibatan dan sikap empati, menunjukkan jarak sangat dekat dengan pemihakan politik, karena itu seakan ia memerlukan data dan fakta, tidak memangkas rasa khidmatnya dalam menggambar. “Ideologi” atau bahkan “agama” di balik gambarnya, tersirat melalui testimoninya tentang Tibet, tidak menendang atau menciderai bidang gambar yang terasa sebagai sesuatu yang tulus. Rupanya, (bakat) seni tidak berakhir, bahkan tatkala ideologi dan kepercayaan tertentu mulai bersemi.

Gambar Enrico membetot perhatian kita pada rinci, jejaring halus tumpukan dan tarikan garisnya. Rinci itu mungkin cahaya “ada” yang menjadikan gambarnya eksis sebagai suatu entitas harapan, lebih dari suatu suatu citraan. Hemat saya, kecenderungan inilah yang memberi nilai kultural pada gambarnya. Latar, yang memperkuat kesan tertentu perihal subyek yang digambar, absen pada semua gambar.Latar putih-kosong pada semua gambarnya rupanya adalah simbol imanen gambar dan keyakinan penggambarnya “…Dengan sengaja aku tidak menggambarkan langit dan awan, kubiarkan putih untuk melambangkan ketinggian dan kehampaan udara. Maupun sekedar untuk memperlihatkan bahwa kehitamanku sekarang telah berkurang berkat Tibet dan Buddhisme”, ujarnya. Agaknya, inilah testimoni imajinatif pada gambar Enrico.

Mengaku setengah Buddhis setengah Marxis, bahkan terasa tak ada sayatan pisau analitik yang membekas tajam pada gambar Enrico. Mungkin karena agaknya ia yakin bahwa di kepala kita telah selalu ada semacam “Tibet di Otak”, suatu simbol mengenai tempat tak terjangkau, nun jauh di sana. Tempat semacam itu tak terkontaminasi, keheningannya pasifistis, maknanya adalah pencerahan pribadi. 3)

Dengan kata lain, Tibet telah menjadi semacam simbol, suatu imanensi pada gambarnya. Sesuatu yang dinginkan boleh kita rasakan, tanpa perlu penjelasan. Seperti garis-garis ketuaan yang begitu kita kenali pada wajah Bunda Teresa atau ekspresi keputusasan seorang ibu migran pada masa depresi besar di selembar foto Dorothea Lange yang terkenal.

Simbol imanen itulah yang mungkin dicari Enrico pada wajah seorang ibu peziarah miskin di Yambulakhang Gompa, biara tertua di Tibet. Atau spirit pasifis seorang biksu tua yang bersimpuh di pinggir gua dengan putaran kosmos di tangan.
Gambar-gambar ini memiliki makna dan mewakili Tibet yang sama saja dengan foto yang memuat “fakta” sejarah karya Steve Lehman. Dua gambar Enrico dikerjakan berdasar dua foto semacam itu. Yang pertama adalah adegan para biksu dan seorang ibu berkuncir yang marah melempari kantor polisi untuk memprotes penangkapan terhadap mereka, pada 1987. Yang kedua, gambar seorang anak mengenakan topi tentara Cina, nyengir memegang foto Dalai Lama, barang terkutuk di Tibet sejak 1996.

Enrico agaknya sadar untuk tidak mendorong gambarnya ke arah representasi demokratis gaya surat kabar yang tiap pagi mesinnya harus kita hidupkan. ”Aktualisasi”, melalui kultur media massa telah memborong semua “fakta” melalui kepercayaan kita pada sebentuk foto dokumenter, berikut caption-nya. Gambar Enrico tidak mereproduksi berita atau membiarkan visualitasnya menjadi mangsa empuk industri informasi yang mengepung kita.

Gambar-gambar ini seakan meminta kita untuk memandang lebih lama. “Pesan”nya akan sampai melalui kemagisan medium itu sendiri. Karena itu, gambarnya terasa tidak kejar mengejar dengan testimoni verbal penggambarnya yang dituliskan di dalam katalog ini. Keyakinan semacam ini boleh jadi juga menguji kepekaan kita pada pesan tersembunyi sebuah gambar…

Hendro Wiyanto, kurator pameran.

Catatan: 1. Jean-Francois Chevrier, “Documentary, document, testimony…”, dalam “Documentary Now! Contemporary strategies in photography, film and the visual arts’, Reflect # 4, NAi Publishers, Rotterdam, 2005. 2. Saya menggunakan istilah ‘picturesque’ dalam arti netral, sebagai efek tertentu dari praktik menggambar atau melukis yang dikerjakan oleh tangan perupa. Bukan dalam arti ideologis-maneritis, yakni sebagai cara memandang maupun bekerja yang mengikuti kebiasaan tertentu seniman ‘besar’, ‘after the manner of painters’, (Lihat, misalnya Andrew Ballantyne, “The Picturesque and its Development”, dalam A Companion to Art Theory, Blackwell Publishing, 2002. 3.Kutipan dari tulisan Enrico Soekarno, “Tibet di Otak”, dalam “Tibet di Otak”, Yori Antar, Raudia Kepper, Enrico Soekarno, Jay Subiyakto, Krish Suharnoko, Ella Ubaidi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005.

Back to article listing