Articles on Enrico

Articles Concerning Enrico Soekarno

Sepenggal Gambar Untuk Kemanusiaan

Ada lebih dari sekadar empati disematkan Enrico Soekarno ke dalam karyanya. Masih mengusung Tibet, ia sesungguhnya meneriakkan dukungan pada keadilan dan kemanusiaan.

Apa yang bisa disampaikan seorang perupa lewat karyanya? Pertanyaan klasik ini tentu saja akan segera mendapat jawab : rupa-rupa! Ya. Segala hal bisa disematkan ke dalam sebuah karya, tergantung keinginan perupa. Maka sangat tak salah kalau Enrico Soekarno memutuskan untuk berteriak lewat sekitar dua puluh gambar yang ia pamerkan dalam pameran bertajuk “Out of Tibet” pada paruh tengah hingga akhir Maret silam. “Tanpa tanda seru, Out of Tibet adalah sebuah nostalgia indah sekaligus miris tentang Tibet yang selalu tertancap dalam benak saya. Tapi kalau diberi tanda seru dengan pengucapan lantang, maka kata itu akan berubah jadi teriakan saya yang tak ingin Tibet terus terjajah,” ungkap Enrico.

Kedekatan inilah yang tertangkap oleh Hendro Wiyanto, kurator pameran yang digelar di Langgeng Icon Gallery, Kemang itu. Enrico, menurut Hendro terasa ingin menyelundupkan simbol kedekatan politis dalam karya hitam putihnya dan itu sama sekali tak salah. Sebab Hendro setuju bahwa sebuah gambar hanya dapat disebut baik manakala karya tersebut dapat dengan tepat menunjukkan posisi di mana sang pembuatnya berada. Keberpihakan Enrico ini sebenarnya telah nyata terpapar sejak pameran Tibet di Otak bersama lima sahabatnya –Yori Antar, Jay Subijakto, Krish Suharmoko, Ella Ubaidi dan Raudia Kepper- pada 2005 silam. Karya-karya dalam “Out of Tibet” merupakan interpretasi atas foto-foto yang ditampilkan dalam pameran tersebut dengan penambahan beberapa foto lain karya yang demikian identik dengan Tibet seperti Rise Up, Forbidden Portrait dan Drepung Prayer.

Dengan cermat, ia menuangkan interpretasi atas foto-foto tersebut ke dalam tarikan garis tebal-tipis, jejaring halus dengan sekelumit arsir yang menyatu sebagai gambar menawan dan mampu meracik beragam kesan. “Tapi tentu gambar-gambar ini tidak seratus persen sama dengan foto. Saya berkuasa penuh memutuskan sisi mana yang ingin saya tonjolkan,” tukasnya sembari nunjuk gambar berjudul “The Two Towers” sebagai contoh. “Di fotonya, gambar ini diambil dari jarak lebih jauh dan lebih kecil. Mata dan pikiran saya yang men-zoom-nya jadi lebih dekat,” lanjut perupa yang juga desainer grafis ini. Hendro pun mengakui kecermatan tangan Enrico menuangkan kesan visual yang ia tangkap dari foto-foto yang jadi sumber karyanya.

Menurut Hendro, gambar Enrico dengan baik berhasil memberi jarak terhadap karya foto awal yang merupakan hasil rekaman mekanikal yang kerap dianggap bukan karya imajinatif. “Pada karya Enrico, gambar memberi sifat denotatif. Itulah yang disebut sebagai kekuatan makna asli yang seakan memang ingin ditekankan oleh penggambarnya,” papar Hendro. Ambiguitas dari persinggungan antara denotasi dan citra dokumenter inilah yang menurut Hendro menjadi daya tarik karya-karya dalam pameran Out of Tibet ini. Tapi ambiguitas itu sama sekali tak tampak pada pesan yang disampaikan Enrico lewat jajaran gambar itu. Satu agenda besar ia tandu jadi sebuah persembahan bagi kemanusiaan : kemerdekaan Tibet. “Pertanyaan ‘kenapa Tibet?’ selalu sampai pada saya dan selalu saya jawab, ‘kenapa tidak?’,” cetusnya lugas. Ia mengaku akan terus bicara tentang hal itu sampai Tibet itu benar-benar lepas dari penjajahan. “Saya mendukung sekali perjuangan tanpa kekerasan yang dilakukan Dalai Lama serta upaya untuk menciptakan zona ‘Ahimsa’ di sebanyak mungkin tempat di dunia. Untuk itulah karya ini saya persembahkan,” katanya mantap.

Kendati memang memiliki ikatan kuat dengan Tibet dan Dalai Lama, Enrico yang juga ketua Yayasan Atap Dunia ini sesungguhnya berbicara atas nama kemanusiaan dan keadilan. Enrico memiliki ‘trauma sejarah’ saat menyaksikan langsung penembakan Santa Cruz di Dili Timor Timur pada 1991 hingga ia bersumpah tak akan menggunakan warna selain hitam putih dalam karyanya hingga mantan penguasa saat itu, Soeharto, tutup usia. “Lewat karya-karya ini, saya hanya ingin mengembalikan ingatan dan kesadaran kita pada pernyataan yang tertera dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 : “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan,” katanya.

Apapun alasannya, setiap orang memang punya hak untuk menyatakan pendapat dan keberpihakannya. Enrico memilih bicara lewat seni sambil terus berjuang demi kemerdekaan dan kemanusiaan. Mungkin suatu saat ia tak lagi bicara tentang Tibet tapi Venezuela atau bahkan Indonesia. Siapa tahu akan ada secercah warna bagi kemanusiaan seperti semburat warna yang akan segera kembali hadir dalam lukisan Enrico Soekarno di masa mendatang.

Indah Soraya Ariani

Back to article listing